December 26th, 2007 by count-adel
18th October 2007
Berceritalah Sang batu bijak tentang bunda bumi
Ketika itu dengan gundah sang bunda memeluk api
Di matanya mengalir air yang teramat murni
Adakah dirinya sedang bersedih hati?
Turunlah hujan memandikan gunung yang terbentang
Berlarilah sang kelinci biru beranjak pulang
Bunda bumi membuka dadanya dengan lapang
Akankah dirinya kembali terang?
Menarilah sang gadis bunga dalam cinta
Teriring nyanyian dan senyum sang bunda
Kembalilah sang anak langit pada bintangnya
Adakah ia mengetuk pintu surga?
Senandungkanlah lagu sang bunda
Hidupnya hanyalah untuk menengangkan jiwa
Sang peniup angin mengirimkan salamnya
Apakah bisa membuat sang bunda tertawa?
Biarlah butir pasir gurun menghilang
Yakinlah bahwa hari ini kan datang
Saat rerumputan berdendang
Ketika cinta sang bunda kembali pulang
Posted in Uncategorized | No Comments »
November 17th, 2007 by count-adel
17th October 2007
Kadang langit menjadi kelam saat siang
Anehnya jiwa berubah kering kala air mata tergenang
Berputarkah bumi ini sayang?
Tak lain aku hanya mencari sinar terang
Menangislah pengembara membuka pintu hatinya
Dia membenci nyawanya dan menyalahkan Tuhannya
Tolonglah dia wahai penyulam senja
Pergilah ia mencari makna hidupnya
Terbukalah wahai mata hati!
Hidupkanlah kembali jiwa yang tlah mati
Biarlah berputar lagi waktu yang tlah berhenti
Nyalakan lagi kehidupan yang tak berarti
Apakah diriku ada wahai penguasa langit?
Tak bisa lagi hati ini bebas menjerit
Di dada ini hanya tersisa rasa sakit
Kelam laksana malam di bawah bulan sabit
Terkutuklah tiap langkahku yang berdarah
Mungkin kematian adalah sebuah anugerah
Layaknya bunga yang tak pernah merekah
Hidup ini bagaikan tembok keluh kesah
Terbukalah wahai mata hati
Biarlah terurai air mata nurani
Hancurkanlah singgasana keangkuhan diri
Hentikanlah segala nyanyian sepi
Ratapan nafas seorang pengembara
Dirinya tak lebih dari seekor binatang hina
Tak lagi mencari nyawa
Dan tak pula memiliki jiwa
Mengamuklah aku seorang diri
Siksalah tubuh ini dalam nyala api
Biarlah raga ini kembali suci
Hingga saat aku menghadap Yang Maha Tinggi
Posted in Uncategorized | No Comments »
November 17th, 2007 by count-adel
15th October 2007
Sebuah cermin pantulan hati seorang wanita
Tak berdosa dirinya tatkala mengambil jalan cinta
Tapi apakah hina ketika telah sakit hatinya?
Jatuhkah dirinya saat pipi basah oleh air mata?
Warna apakah yang muncul di hatinya?
Merah laksana darah atau indahnya pelangi jingga?
Tampak letih matanya yang di derai cinta
Sakitkah batinnya?
Seekor burung hinggap di jendela jiwanya
Menyanyikan lagu pengiring tenangnya senja
Pupuskah harapannya demi cinta?
Ataukah pecah amarahnya di lautan penuh makna?
Pada akhirnya biarkanlah aku bertanya
Siapakah gerangan dirinya?
Apakah ini yang dinamakan cinta?
Ataukah ini hanya bayangan sebuah nama?
Sebuah cermin pantulan sebuah cinta
Berlikulah jalan yang diambil seorang wanita
Kelamkah malam di bawah sinar purnama?
Ataukah ini tak lebih dari fatamorgana jingga?
Posted in Uncategorized | No Comments »
February 26th, 2007 by count-adel
A waltz when she walks in the room. She pulls back the hair from her face. She turns to the window to sway in the moonlight. Even her shadow has grace…
A waltz for the girl out of reach. She raises her hands up to the sky. She moves with the music. The song is her lover. The melody’s making her cry…
So She dances. In and out of the crowd like a glance. This romance is from afar calling me silently…
A waltz for the chance I should take. But how will I know where to start. She’s spinning between constelation and dreams. The rythme that might be away…
So She dances. In and out of the crowd like a glance. This romance is from afar calling me silently. I can’t keep on watching forever. I give up this view just to tell her…
When I closed my eyes I could see. Spotlights are bright for you and me. We’re on the floor and you’re in my arms. How could I ask for more…
Posted in Uncategorized | No Comments »